Legenda kiper Manchester United, Edwin van der Sar menjadi salah satu sosok yang menyoroti perjalanan mantan timnya di musim ini. Menurut pandangannya, Setan Merah kehilangan karakter bermain yang sudah lama hadir di Old Trafford.

Jika membandingkan perjalanan karirnya di masa lalu dan sekarang maka sangat berbanding terbalik, terhitung sejak enam tahun berkarir di Old Trafford, dia berhasil meraih sejumlah prestasi dari berbagai ajang seperti Premier League dan Liga Champions.

Lantas sekarang apa yang dilihat, Manchester United begitu tersakiti di papan klasemen sampai berada di zona degradasi dengan raihan poin yang begitu berpotensi di salip oleh tim di bawahnya. Semenjak Sir Alex Ferguson meninggalkan meja kerjanya, sampai sekarang Manchester United nampak tidak mampu berkembang.

Untuk semantara ini, Manchester United berada di peringkat 12 dengan baru mendapatkan dua kemenangan dari delapan pertandingan di Premier League musim ini. Jika dibedah lebih dalam, Manchester United hanya unggul dua poin dari Everton yang berselisih dua poin saja.

Situasi ini menarik perhatian dari para legenda klub, tak jarang juga yang mengkritik tajam dari sikap pemain hingga pelatih. Van der Sar pun turut serta dalam aliran itu, dengan mengatakan bahwa saat ini bekas klubnya tersebut sudah tak memiliki karakter alaminya sejak dulu.

“Ketika masuk ke ruang ganti, saya bisa bertemu dengan Ryan Giggs, anda punya [Paul] Scholes, [Rio] Ferdinand, [Gary] Neville, bahkan Roy Keane pada masa itu. Jadi saya pikir selalu ada karakter yang kuat di dalamnya,” buka Van der Sar.

“Lalu saya pikir karakter itu sudah hilang dalam beberapa tahun terakhir dan tak lagi membuat perbedaan sekarang,”

Jika merujuk pada pencapaian di masa lalu, maka Van der Sar melihat jalan dari tim garapan Ole Gunnar Solskjaer tersebut masih panjang dan memungkinkan banyak rintangan yang akan datang. Satu sorotan tajam disini adalah kebijakan dari manajemen klub saat ini.

“Jalan masih panjang jika melihat situasi klub saat ini. Dan tentu saja mereka telah melakukan pergantian pelatih beberapa kali dan progres yang nyata belu terlihat, hanya beberapa hal yang mereka dapatkan di musim panas lalu,” tambah Van der Sar.

“Pemain muda datang dengan kurang pengamalan, hasrat dan rasa lapar tertentu, dan bukan nama-nama besar yang mereka beli dalam enam, tujuh tahun terakhir,” tutup Van der Sar.

Jika melihat sisi positifnya, maka Manchester United di awal musim 2019-2020 mencatatkan rekor baru dengan menurunkan pemain muda yang mengarah kepada umur pemain itu sendiri. Dimana susunan pemain Setan Merah saat itu memiliki rata-rata umur 24 tahun dan 227 hari, lebih rendah dari penghuni Premier League lainnya.